Ayunda Si Menik Makan Sego Ceting, Inovasi Kabupaten Gunungkidul masuk Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2019

08 Juli 2019

 


Gunungkidulkab.go.id – Ayunda Si Menik Makan Sego Ceting, yang merupakan singkatan dari Ayo Tunda Usia Menikah Semangat Gotong Royong Cegah Stunting, masuk dalam Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2019 Kementerian PAN-RB RI. Inovasi ini adalah sebagai upaya mengatasi permasalahan yang ada, yaitu sejak tahun 2013 kondisi angka pernikahan usia anak di Kecamatan Gedangsari Kabupaten Gunungkidul cukup tinggi sehingga UPT Puskesmas Gedangsari II beserta lintas sektor sudah membuat inovasi Ayunda Si Menik (Ayo Tunda Usia Menikah), dan pada tahun 2017 diketahui angka stunting sangat tinggi sehingga perlu upaya untuk mendorong kegiatan yang lebih intensif dilakukan upaya inovasi lanjutan yaitu Sego Ceting (Semagat Gotong Royong Cegah Stunting). 

Bupati Gunungkidul, Hj. Badingah, S.Sos, pada Jumat (05/07) pagi secara langsung memaparkan materi inovasi tersebut di Ruang Sriwijaya 1 Lt II, Kantor Kementerian PAN-RB RI, Jakarta Pusat. Dalam paparan di hadapan panelis juri Top 99 Sinovik, Nurjaman Mochtar – Journalist, R. Siti Zuhro - Peneliti senior Pusat Penelitian Politik-LIPI, Neneng Goenadi - Managing Director Grab Indonesia, Wawan Sobari - Pengamat Politik Univ. Brawijaya dan Indah Suksmaningsih – YLKI, Bupati Gunungkidul menyampaikan bahwa Inovasi “Ayunda Si Menik Makan Sego Ceting” merupakan inovasi yang esensinya sebagai upaya yang dilakukan bersama untuk menekan angka pernikahan usia anak, dengan tujuan menekan resiko AKI (Angka Kematian Ibu), AKB (Angka Kematian Bayi) dan BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah). Kasus BBLR menjadi salah satu penyebab tingginya stunting selain kondisi Ibu hamil anemia, status gizi buruk, sanitasi lingkungan tidak sehat, PHBS yang masih rendah sehingga dengan semangat jiwa gotong royong seluruh komponen berupaya menurunkan angka stunting.

Program Ayo Tunda Usia Menikah (Ayunda Si Menik) bertujuan untuk menyiapkan kelahiran yang sehat baik ibu dan bayinya, seorang calon ibu harus melakukan persiapan kesehatan fisik maupun mental sedini mungkin. Mulai usia remaja kondisi kesehatannya harus terbebas dari anemia, terpapar pengetahuan tentang reproduksi sehat, mendapatkan bimbingan dan pembinaan mental spiritual tentang membangun keluarga sehat dan bahagia. Harapannya pada saat terjadi persalinan usia ibu sudah cukup,kondisi sehat dan melahirkan bayi yang sehat, bisa merawat dan mendidik anak dengan pengetahuan yang cukup sehingga tumbuh menjadi generasi bangsa yang berkualitas.

Selanjutnya ada gerakan Semangat Gotong Royong Cegah Stunting (Sego Ceting) adalah upaya mengawal pertumbuhan bayi sejak dalam kandungan sampai usia 2 tahun (1000 Hari Pertama Kehidupan). Kegiatan ini bertujuan untuk pendampingan pola asuh, pola hidup dan pola pikir calon ibu, ibu balita dan keluarga serta masyarkat setempat sehingga tercipta kondisi lingkungan yang sehat dan kondusif.

Indonesia saat ini tengah bermasalah dengan stunting. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2013 menunjukkan prevalensi stunting mencapai 37,2%. Prevalensi balita stunting di UPT Puskesmas Gedangsari II pada tahun 2016 adalah 31,41%; tahun 2017 37,16% ; dan pada tahun 2018 sejumlah 21,31%.

“Guna mendukung inovasi dimaksud, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menerbitkan 2 (dua) kebijakan yaitu Peraturan Bupati Nomor 36 Tahun 2015 tentang Pencegahan Perkawinan Usia Anak dan Keputusan Bupati Nomor 170 Tahun 2016 tentang RAD Pencegahan Perkawinan Usia Anak ” papar Badingah.

Inovasi Ayunda Si Menik Makan Sego Ceting ini mempunyai keunikan dan kebaruan diantaranya:

Adanya peningkatan komitmen lintas sektor

Puskesmas bersama lintas sektor menandatangani MoU bersama untuk mengatasi permasalahan yang ada (tingginya ibu hamil KEK (Kekurangan Energi Kronis), bumil Risti (Resiko Tinggi), persalinan remaja, BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah), angka kematian bayi, dan rendahnya cakupan imunisasi caten).

Adanya peningkatan pemahaman reproduksi sehat pada remaja

Adanya FGD tentang pergaulan sehat, pembelajaran KRR (Kesehatan Reproduksi Remaja) dalam bentuk outbond sehingga menarik dan materi lebih bisa tersampaikan.

Ajang Gedangsari Award

Memberikan penghargaan bagi Desa yang mampu menekan angka pernikahan dini nol (0) selama minimal dua (2) tahun berturut-turut. Momen ini sebagai media monitoring evaluasi kegiatan yang sudah dilaksanakan dan juga untuk memotivasi Desa dalam mengupayakan keberhasilannya.

Kampanye melalui lagu Ayunda Si Menik

Lagu ini berisi ajakan pendewasaan usia nikah sebagai upaya pencegahan nikah usia dini.

Membuat gerakan “Sego Ceting” (Semangat Gotong Royong Cegah Stunting)

Sebagai upaya berkelanjutan dan percepatan pencegahan stunting dilakukan beberapa agenda kegiatan, yaitu: penanaman pohon kelor sebagai sumber gizi keluarga, pelatihan PMBA (Pembuatan makanan Bayi dan Anak), pembentukan Satgas 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan), Infaq telur, dan pembentukan posyandu remaja.

“ Inovasi Ayunda Si Menik Makan Sego Ceting telah direplikasi di 9 (sembilan) Kecamatan, yaitu Patuk, Nglipar, Saptosari, Semin, Karangmojo, Wonosari, Panggang, Purwosari, dan Playen. Kegiatan ini sangat memungkinkan direplikasi di daerah lain baik nasional maupun internasional karena latar belakang masalahnya merupakan isu global, biaya murah dan mudah, selaras dengan tujuan SDGs.” jelas Badingah

Keberhasilan upaya yang dilakukan Puskemas Gedangsari II, dan wilayah lain di Kabupaten Gunungkidul menjadi menarik daerah lain sehingga menjadi tujuan kaji banding dari beberapa tempat, diantaranya: Diklat PIM III Kemenkes, Diklat PIM III BPK Pusat, Pemerintah Kabupaten Nganjuk Jawa Timur, Diklat PIM IV Jawa Timur.